niat mengganti puasa ramadhan 2021 dan tata cara mengganti hutang puasa
niat mengganti puasa ramadhan 2021 dan tata cara mengganti hutang puasa

Puasa Ramadhan akan tiba beberapa hari lagi, segala persiapan telah anda rencakanan untuk menyambut puasa ini. Salah satu persiapan mungkin ada dari kita untuk mengantisipasi jika terjadi halangan saat dibulan Ramadhan seperti cara mengganti puasa sebagai hutang puasa ramadhan apabila nanti kita terpaksa membatalkan puasa dari karena beberapa alasan. Dan tidak terasa puasa ramadhan tahun 2021 dimana puasa ramadhan jatuh pada tanggal 13 April 2021.

Cara untuk menggantinya pun cukup dengan melakukan puasa seperti halnya kita berpuasa saat Ramadhan dengan jumlah hari yang telah kita tinggalkan. Qadha atau niat untuk mengganti puasa ramadhan bisa dilakukan dalam berturut-turut apabila kita meninggalkan lebih dari 2 hari ataupun secara terpisah ataupun puasa secara selang-seling (hari ini puasa besok tidak kemudian puasa lagi seperti puasa Nabi Daud).

Puasa ramadhan termasuk wajib bagi setiap muslim yang sudah melalui masa baligh, berakal/berpikir serta tidak ada halangan yang memberatkannya. Jika mengalami halangan seperti Sakit, Saat dalam perjalanan jauh, datang bulan/haid bagi perempuan. Oleh karena halangan itu, kita wajib mengganti puasa ramadhan yang telah batal di bulan depan. Hal ini tercantum dalam Quran Surat:

Quran Surah Al-Baqarah ayat 184:
“… maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin … “

Niat Membayar Hutang (Qadha) Puasa Ramadhan

niat membayar hutang qadha puasa ramadhan
niat membayar hutang qadha puasa ramadhan

Niat puasa qadha ramadhan dapat dilaksanakan pada bulan setelah Ramadhan selesai. Untuk menjalankan qadha tersebut sama halnya berpuasa pada bulan Ramadhan dengan Niat Qadha (Membayar Hutang Puasa) dilafalkan pada malam hari jelang puasa (boleh saat tiba waktu sahur/sebelumnya). Hal ini berdasarkan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya

Dengan melafalkan:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa’i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta‘aalaa.

Artinya: Hamba berniat untuk membayar hutang puasa Ramadhan Besok Karena Allah SWT.

Lantas muncul pertanyaan apakah jika kita tidak meniatkan dengan melafalkan Nawaitu tersebut membayar hutang puasa jadi tidak sah? Hal ini masih ada beberapa perdebatan namun kita sebagai makhluk berakal bisa memutuskan dengan pikiran jernih bahwa Allah Maha Bijaksana. Sehingga, menurut pendapat pribadi saya, hutang tetap terbayar di mata Allah yang Maha Bijaksana walaupun tanpa Nawaitu. Namun, alangkah baiknya memakai Nawaitu untuk memulai Qadha puasa.

Baca Juga:  Ramadhan, Al-Qur'an dan Adab Membacanya

Niat Puasa Qadha Ramadhan Di Hari Terpisah Atau Setiap Hari

Membayar hutang puasa Ramadhan bisa dilakukan setara dengan jumlah hari puasa yang telah kita tinggalkan. Apabilan kita lupa dengan berapa jumlah hari yang kita batal puasa saat Ramadhan, alangkah baiknya untuk menggunakan jumlah maksimum. Ataupun jika terlalu lupa, tetap usahakan menggantinya dengan jumlah puasa yang diingat karena Allah Maha Pengampun dengan segala kekurangan yang dimiliki manusia.

niat puasa qadha ramadhan di hari terpisah atau setiap hari
niat puasa qadha ramadhan di hari terpisah atau setiap hari

Namun, di zaman teknologi yang sudah berkembang pesat, Anda bisa mencatat di smartphone anda berapa hari yang Anda tidak berpuasa saat ramadhan. Jadi, Ampunan Allah itu ada, tapi jauh lebih baik Anda menggunakan perangkat teknologi untuk menutupi kekurangan Anda yang pelupa. Jadi manfaatkan smartphone anda selain untuk hiburan seperti bermain game dengan grafis terbaik saja.

Mengenai Qadha puasa apabila anda meninggalkan lebih dari 1 hari bisa dilakukan setiap hari atau berurutan ataupun secara terpisah yang sudah saya bahas diatas tadi (selang-seling). Atau Anda bisa mengganti puasa ramadhan di hari senin dan kamis, jumat-sabtu atau hari-hari lainnya selama hari tersebut tidak masuk dalam hari puasa sunnah seperti puasa arafah atau hari besar Islam Idul Fitri dan Idul Adha.

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Qadha (puasa) Ramadan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. ” (H.R. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar).

Qadha Puasa Ramadhan Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal

qadha puasa ramadhan untuk orang tua yang sudah meninggal
qadha puasa ramadhan untuk orang tua yang sudah meninggal

Apabila Orang tua mengalami musibah yakni meninggal dunia dan memiliki hutang puasa, Maka kita sebagai anak dianjurkan untuk mengganti dengan jumlah hari yang sudah ditinggalkan. Hal ini sesuai dengan Hadits berikut:

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa meninggal dunia padahal ia berutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya” (Muttafaq Alaih).

Waktu Yang Tepat Untuk Mengganti Puasa Ramadhan

Waktu yang tepat untuk membayar hutang puasa Ramadhan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin selagi masih diberikan kesehatan setelah melalui bulan Ramadhan karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil Oleh Allah SWT.

waktu yang tepat untuk mengganti puasa ramadhan
waktu yang tepat untuk mengganti puasa ramadhan

Pada kitab Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam dikutipkan sama seorang penulisnya bahwa Imam Abu Hanifa bertutur:

Kewajiban meng-qadha puasa Ramadhan adalah kewajiban yang lapang waktunya tanpa ada batasan tertentu, walaupun sudah masuk Ramadhan berikutnya,

Anggapan itu memberikan informasi bahwa tidak ada batasan waktu untuk kita membayar hutang puasa. Dengan begitu, kita boleh melalukan qadha puasa kapan saja meski sudah melewati bulan Ramadhan selanjutnya.

Baca Juga:  Apa Yang Dimaksud Dengan Karikatur? Dan Bedanya Kartun Dan Karikatur

Tetapi, ada Anggapan lainnya yang mengatakan bawha waktu dan peluang untuk membayar puasa Ramadhan yakni sampai bulan Ramadhan selanjutnya. Hal ini didasarkan pada Hadits berikut ini:

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ahmad dari Aisyah RA yang berbunyi:
”Aku tidaklah meng-qadha sesuatu pun dari apa yang wajib atasku dari bulan Ramadan, kecuali di bulan Sya’ban hingga wafatnya Rasulullah”

Anggapan ini berarti membayar puasa Ramadhan wajib dilaksanakan sebelum masuk bulan Ramadhan yang akan datang. Hadits diatas merupakan Hadits Mauquf yang merupakan perbuatan, perkataan, dan diamnya para sahabat dan dalam konteks ini adalah istri Nabi Muhammad SAW yakni Aisyah RA.

Diberitakan dari Islam Pos, Mahmud Abdul Latif Uwaidhah menyatakan dalam Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam:

“Adalah jauh sekali, terjadi perbuatan itu dari Aisyah yang tinggal dalam rumah kenabian tanpa adanya pengetahuan dan persetujuan (iqrar) dari Rasulullah. Nash ini layak menjadi dalil bahwa batas waktu terakhir untuk meng-qadha puasa adalah bulan Sya’ban. Artinya, qadha hendaknya dilaksanakan sebelum datangnya Ramadhan yang baru. Jika tidak demikian, maka seseorang telah melampaui batas. Kalau qadha itu boleh ditunda hingga datangnya Ramadhan yang baru, niscaya perkataan Aisyah itu tidak ada faidahnya. Lagi pula pendapat mengenai wajibnya meng-qadha sebelum datangnya Ramadhan yang baru telah disepakati oleh para fuqaha, kecuali apa yang diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah rahimahullah.”

Jika ada dari kita dengan alasan tertentu belum bisa melaksanakan qadha puasa Ramadhan sampai tiba bulan Ramadhan Selanjutnya akan ada ketentuan sendiri.

Jika ada orang-orang dengan alasan tertentu belum juga melaksanakan qadha’ puasa Ramadan, sampai tiba bulan Ramadan berikutnya ada ketentuan tersendiri.

Kondisi seperti ini bisa disebabkan oleh berbagai hal misalkan ada halangan yang berkelanjutan seperti: sakit yang tidak kunjung sembuh, sikap apatis, sengaja mengabaikan dan lainnya. Menjadikan pelaksanaan membayar hutang puasa Ramadhan tidak pernah dilakukan dan selalu ditunda walaupun bulan Ramadhan yang akan datang akan tiba.

Baca Juga:  Daftar Pengganti Layar Kaca 21 Movie Indonesia Terbaru

Penangguhan qadha puasa Ramadhan hingga berlarut-larut dengan halangan yang tidak masuk akal, maka hukumnya saya serahkan penuh kepada Allah SWT. lain halnya, jika tidak bisanya membayar hutang akibat usia yang sudah senja/uzur maka Allah Maha Pemurah dan Bijaksana.

Demikian pembahasan mengenai niat puasa membayar hutang puasa ramadhan yang bisa disampaikan. Jika ada hal yang ingin Anda tambahkan, silahkan tinggalkan pada kolom komentar dibawah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here