Dr. Sjahrir – Tetap Kritis Meski Dekat Kekuasan

Ia adalah seorang ekonom, tapi kesehariannya tidak pernah lepas dari persoalan politik. Ekonomi dan politik menjadi pisau analisisnya dalam membedah suatu kebijakan pemerintah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Kendati Sjahrir pernah dekat dengan kalangan Istana, sewaktu dirinya ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai anggota Dewan Pertimbang Presiden, namun sifat kritisnya masih tetap melekat. Solidaritas antarteman juga tak perlu dipertanyakan. Saat memperingati peristiwa Januari 1974, atau yang dikenal Peristiwa Malari, bersama teman dekatnya Hariman Siregar, dia melakukan unjuk rasa mengkritisi berbagai kebijakan pemerintahan SBY.

Tapi keikutsertaannya dalam berunjuk rasa, tak membuat SBY marah. Menurut juru bicara Presiden kala itu, Andi Alifian Malarangeng, hadirnya Syahrir di tengah massa yang menuntut “cabut mandat” SBY, hanya sekadar nostalgia mengenang peristiwa Malari. Bagi Sjarir peristiwa Malari sangat berkesan dalam sejarah hidupnya, setidaknya karena membuat dia merasakan menginap di “hotel prodeo”.

Sjahrir dikenal sebagai seorang ekonom yang blak-blakan, tegas, vokal dan tidak mengenal kata kompromi. Bahkan, SBY yang sering dikritik oleh Sjahrir juga memujinya. “Dia seorang ekonom yang terkemuka. Pandangannya jelas, analisisnya tajam. Sering vokal dalam aksi dan blak-blakan,” papar SBY sesaat setelah melayat ekonom terkemuka ini di rumah duka pada Juli 2008.

Agung Laksono mengenang sosok Sjahrir sebagai tokoh yang cerdas dan patut diteladani. Bahkan boleh dikatakan, kata Agung, Indonesia mungkin saat ini kesulitan mencari sosok seperti Sjahrir. Menurut koleganya, Pande Raja Silalahi, ada dua buah pimikiran Sjahrir yang selalu dikenangnya. Pertama, Sjahrir selalu menyosialisasikan masyarakat tertinggal. Kedua, pemikiran tentang partisipan bangsa yang menurut dia harus digunakan untuk melakukan suatu tindakan nyata, bukan hanya sekadar buah pemikiran, tetapi untuk mewujudkan suatu pemikiran ke dalam realita.

Laporan Transparency International (TI) mengenai Korupsi Global 2007 menyebutkan bahwa tingkat korupsi peradilan di Indonesia dinilai paling tinggi, dan itu membuat Sjahrir prihatin. Menurut laporan TI ketika itu, korupsi lembaga peradilan di negeri ini dinilai sejajar dengan negara Albania, Yunani, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela. Laporan menyebutkan, di Indonesia setidaknya 5 diantara 10 keluarga harus membayar suap untuk mendapat keadilan di lembaga peradilan.

Baca Juga:
15 Manfaat Internet Bagi Pelajar Dalam Dunia Pendidikan

Untuk menegakkan keadilan, menurut Sjahrir, dibutuhkan lembaga peradilan yang kuat dan berwibawa. Tapi jika lembaga peradilan bak pasar gelap (black market of justice), terdapat komersialisasi hukum, maka jangan heran jika keadilan hanyalah milik orang berduit. Sedang bagi masyarakat miskin, keadilan hanya ada di angan-angan.

Sjahrir mempunyai pandangan bahwa selama ini reformasi baru sebatas menyentuh bidang politik. Lembaga eksekutif dan legislatif menjadi sorotan publik lantaran banyak terkait berbagai dugaan korupsi. Tapi, untuk sektor hukum, yang semestinya sama dibenahi, masih dilaksanakan pembiaran. Sehingga, kata Sjahrir, “Pada tataran yudikatif, praktis sangat jauh tertinggal.”

Kini gerakan pemberantasan korupsi sedang berada dalam titik kritis. Semua unsur masyarakat sipil harus bersatu agar gerakan antikorupsi tak berhenti. Budaya ewuh pakewuh yang selama ini menjadi hambatan seharusnya ditanggalkan. “Kalau ada maling, jangan dihormati hanya karena punya banyak uang. Orang seperti itu harus langsung dikucilkan. Yang harus diperjuangkan adalah membuat situasi kondusif bagi berjalannya reformasi peradilan,” tegas Sjahrir.

Sjahrir dikenali sebagai salah seorang mahasiswa yang dijebloskan ke penjara saat kejadian Malari di Jakarta tahun 1974. Dia menikah dengan Kartini Panjaitan, seorang doktor di bagian antropologi yang sekarang memegang Duta Besar RI untuk Argentina, ketua Perserikatan Antropologi Indonesia. Dari pernikahan itu, pasangan Sjahrir-Kartini mendapat seorang putra, Pandu, dan seorang putri, Gita.

Biografi Tentang Dr. Sjahrir

biografi tentang dr. sjahrir
biografi tentang dr. sjahrir

Sjahrir lahir sebagai anak satu-satunya dari pasangan Ma’amoen Al-Rasyid dan Roesma Malik. Ayahnya adalah pejabat pemerintah pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sementara ibunya adalah pegawai Inspektorat Pendidikan Wanita di Departemen Pendidikan. Meskipun berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, keluarga Sjahrir lebih banyak tinggal di pulau Jawa; Kudus, Yogyakarta, Magelang, Surabaya, dan terutama Jakarta.

Baca Juga:
Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Saat Memilih kampus atau Universitas

Profil Pendidikan Dr. Sjahrir

Ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1974, Sjahrir adalah seorang aktivis. Background itu yang mengantarnya ke dunia politik. Pada tahun 2002, Sjahrir mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru sebagai upaya menawarkan solusi bagi bangsa yang tengah dilanda masalah.

Sjahrir mendapatkan pendidikan dasarnya di sebuah sekolah negeri di Jakarta, meski sempat mengenyam pendidikan di Dalton Elementary School, Amsterdam. Ia melanjutkan ke sekolah menengah Canisius College, Jakarta. Di sekolah itu Sjahrir mendapati kegemarannya akan pelajaran ekonomi. Setelah lulus dari Canisius College, ia diterima di Universitas Indonesia, tempat kemudian ia mendalami ilmu ekonomi.

Selama periode ini, Sjahrir aktif di kegiatan kemahasiswaan. Dia tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA). Aktivitasnya di IMADA membuatnya terpilih sebagai Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) Jakarta. Selain itu, aktivitasnya di badan kemahasiswaan kampus membuatnya terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Senat Mahasiswa, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Badan Kemahasiswaan UI memiliki peran yang cukup besar dalam pergerakan politik Indonesia. Pada tahun 1974, para mahasiswa memprotes kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan peran investasi asing di Indonesia. Demonstrasi kemudian bergejolak menjadi kerusuhan. Peristiwa itu dikenal sebagai Malari.

Sjahrir yang di saat itu sudah lulus dengan gelar Sarjana Pengetahuan Ekonomi dari Kampus Indonesia dan akan bersiap-sedia pergi ke Amerika Serikat untuk meneruskan pengajaran S2 atas beasiswa di Kennedy School of Government, Universitas Harvard, ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman penjara 6,5 tahun atas tuduhan subversi dalam keterlibatannya pada peristiwa tersebut. Meski demikian, Sjahrir hanya menghabiskan waktu di penjara selama hampir 4 tahun sebagai tahanan politik.

Setelah keluar dari penjara, Ford Foundation yang menjadi sponsor beasiswanya, masih memberikan kesempatan kepada Sjahrir untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Ia lulus pada tahun 1983 dari Universitas Harvard dengan gelar doktor di bidang Ekonomi Politik dan Pemerintahan. Di Harvard pulalah ia sempat menjalin pertemanan dengan Ninoy Aquino dan Kim Dae Jung.

Baca Juga:
Cara Memilih Guru Les atau Bimbel SIMAK UI

Setelah meraih gelar doktor, Sjahrir membagi ilmunya dengan menjadi dosen di fakultas lamanya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia kemudian mendirikan lembaga yang bernama Insititute for Economic and Financial Research (Ecfin) bersama rekan-rekan ekonom lainnya. Sjahrir juga mendirikan lembaga lain, yaitu Yayasan Padi dan Kapas, yang kegiatan utamanya adalah penelitian, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.

Hingga akhir hayatnya, Sjahrir aktif sebagai konsultan dan penasihat untuk bank-bank dan perusahaan-perusahaan publik. Sudah Banyak seminar ekonomi yang didatanginya sebagai pembicara, dan lebih dari selusin buku yang diedarkannya, menguatkan namanya sebagai kritikus dan riset ekonomi yang cukup dilihat di negeri ini. Semenjak tahun 1994, dia jadi pembicara di Dewan Sosial dan Politik Angkatan Membawa senjata Republik Indonesia.

Pendiri Perhimpunan Indonesia Baru

Ketika terjadi krisis moneter yang mengguncang Indonesia pada tahun 1997 berkelanjutan menjadi krisis ekonomi dan politik, Sjahrir terdorong untuk menawarkan solusi bagi negeri ini. Di tahun 2001, pada periode Reformasi, Sjahrir berhasil membangun Perhimpunan Indonesia Baru. Aktivitas utama perhimpunan itu adalah menyelenggarakan cabinet watch yang mengawasi keputusan-keputusan pemerintah atas kebijakan-kebijakan tertentu, dan mengumumkan hasil pengawasan itu ke masyarakat.

Tidak puas dengan proses Reformasi setelah jatuhnya Soeharto, Sjahrir dan rekan-rekannya yang memiliki ide yang sama di Perhimpunan Indonesia Baru dengan mengumumkan berdirinya Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB). Partai ini mencoba menawarkan solusi alternatif pada era Reformasi melalui partisipasi di pemilihan umum 2004. Sjahrir sendiri berkesempatan mencalonkan diri di pemilihan presiden tahun itu, namun tidak memperoleh jumlah suara yang cukup untuk maju ke tahap berikutnya.

Meski demikian, mengetahui bahwa keahlian ekonomi Sjahrir dapat bermanfaat bagi pemerintah yang baru, presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, Susilo Bambang Yudhoyono, menunjuk Sjahrir sebagai Penasihat Ekonomi Presiden. Tugas Sjahrir sebagai Penasihat Ekonomi Presiden termasuk menjadi duta khusus Presiden RI ke negara-negara lain, menjalankan misi kepresidenan.

Baca Juga:
Cara Memilih Guru Les atau Bimbel SIMAK UI

Sebagai ahli ekonomi dan tokoh masyarakat, Sjahrir sempat memandu acara (Info untuk Anda dan Dialog Aktual di Indosiar) dan tampil di televisi nasional menjadi narasumber, antara lain Metro TV, SCTV, TPI, Anteve, TVRI, dan Lativi. Ia wafat setelah beberapa lama dirawat di RS Mt. Elizabeth, Singapura karena menderita kanker paru-paru.

Biografi

Nama

  • Sjahrir

Lahir

  • Kudus, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Maret 1945

Meninggal

  • Singapura, 28 Juli 2008

Agama

  • Islam

Ayah

  • Mamoen Al-Rasyid

Ibu

  • Roesma Malik

Istri

  • Kartini Panjaitan

Anak

  • Pandu
  • Gita

Pendidikan

  • Sekolah Dasar di Dalton Elementary School, Amsterdam.
  • Sekolah Menengah di Canisius College, Jakarta
  • S1 di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat jurusan Ilmu Ekonomi (1974)
  • Gelar Doktor di bidang Ekonomi Politik dan Pemerintahan pada Kennedy School of Government, Universitas Harvard, USA (1983)

Karir

  • Penasihat Presiden Republik Indonesia bidang Ekonomi (2005 – 2008).
  • Pendiri dan Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) (2002 – 2008).
  • Ketua Laboratorium Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat, dan Pengkajian Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang Indonesia (KADIN) (1994 – 2004).
  • Pendiri Institute for Economic and Financial research (ECFIN) (1989).
  • Pendiri Yayasan Padi dan Kapas (1987)
  • Anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) (1965 – 1969).

Pengalaman Profesional

  • Pembicara sebagai ahli ekonomi di forum-forum lokal, nasional, dan internasional (1983 – meninggal)
  • Presiden Direktur PT SYAHRIR SECURITIES, sebuah perusahaan sekuritas, Jakarta (1996 – April 2005)
  • Narasumber di Dewan Sosial dan Politik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1994)

Pengalaman Politik

  • Menjadi anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dengan jabatan akhir Ketua Periodik KAMI Pusat (1965 – 1969).
  • Ditangkap dan diadili sebagai tahanan politik dalam peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) (1974 – 1977).
  • Mendirikan Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) (2001)
  • Deklarator Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) (2002)
  • Ketua Umum Partai PIB (2002 – meninggal)
  • Kunjungan kerja ke Amerika Serikat sebagai Utusan Khusus (Special Envoy) untuk Presiden RI (Agustus 2006).
  • Kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang sebagai Utusan Khusus (Special Envoy) untuk Presiden RI (Oktober 2006).
  • Kunjungan kerja ke Washington, DC sebagai Utusan Khusus (Special Envoy) untuk Presiden RI (Februari 2007)
Baca Juga:
15 Manfaat Internet Bagi Pelajar Dalam Dunia Pendidikan

Posisi Akademik

  • Anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
  • Anggota American Economic Association (AEA)

Kaya Tulis

  • Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok, LP3ES, Jakarta, 1986.
  • Kebijaksanaan Negara: Konsistensi dan Implementasi, LP3ES, 1987; cetakan kedua LP3ES, 1988.
  • Analisis Ekonomi Indonesia, Gramedia, 1990, cetakan kedua 1991, cetakan ketiga 1992, cetakan keempat, 1995.
  • Dinamika Ekonomi Indonesia, Warta Ekonomi, 1992.
  • Refleksi Pembangunan, Gramedia, 1992.
  • Ekonomi Politik Indonesia, Yayasan Keluarga Bhakti Surabaya, PT. Gramedia, 1993.
  • Ekonomi Enak Dibaca dan Perlu, Pustaka Utama Grafiti, 1994.
  • Persoalan Ekonomi Indonesia: Moneter, Perkreditan dan Neraca Pembayaran, Pustaka Sinar Harapan, 1995.
  • Kebijakan Negara Mengantisipasi Masa Depan, Yayasan Obor Indonesia, 1994.
  • Analisis Bursa Efek, Gramedia Pustaka Utama, 1995.
  • Pikiran Politik Sjahrir, Pustaka LP3ES Indonesia, 1994.
  • Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Bisnis, Jurnalindo Aksara Grafika, 1995.
  • Formasi Mikro-Makro Ekonomi Indonesia, Universitas Indonesia Press, 1995.
  • Catatan Ekonomi Indonesia, Adhiprint Indonesia, 1995.
  • Spektrum Ekonomi Politik Indonesia, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1995.
  • Ekonomi Politik Konglomerasi Indonesia, Warta Ekonomi, 1995.
  • Tinjauan Pasar Modal, Gramedia Pustaka Utama, 1995.
  • Meramal Ekonomi di Tengah Ketidakpastian, Gramedia Pustaka Utama, 1995.
  • Masuk Krisis Keluar Krisis: Para Tokoh Menggugat, Erlangga, 1999.
  • Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total, Yayasan Obor Indonesia, Yayasan Padi dan Kapas, 1999
  • Membangun Indonesia Baru, Perhimpunan Indonesia Baru, 2002.
  • Transisi Menuju Indonesia Baru, Yayasan Obor Indonesia, 2004.

Leave a Comment