menelusuri peluang bisnis batik eksotis di kampung laweyan solo
menelusuri peluang bisnis batik eksotis di kampung laweyan solo

Kampung Laweyan adalah kampung batik yang eksotik di Kota Solo, Jawa Tengah. Situasi kampung dengan beberapa rumah kuno dan gang-gang jalan yang terbatasi tembok-tembok putih tinggi. Batik telah dikenali semenjak era ke-19 di kampung ini. Kreasi tradisional ini masih dilestarikan oleh warga Kampung Laweyan.

Beberapa toko penjual batik di sejauh jalan sekalian rumah untuk penjualnya. Pengrajin batik tradisional dan penjualnya jadi satu, berjejeran di sejauh jalan Kampung Laweyan. Di sini pengunjung dapat belanja batik dan menyaksikan langkah proses pembikinan batik.

Saat yang terbaik untuk menyaksikan kegiatan kampung ini ialah pada pagi hari. Pengunjung dapat menyaksikan pembikinan batik tulis, batik printing, batik cap, pencelupan, pencucian sampai penjemuran kain-kain batik yang beragam corak,

Telusuri jalanan di Laweyan dengan becak bagus sekali. Tentu saja, dengan naik becak, tidak raih dibanding harus jalan kaki.

Beberapa tukang becak juga melakukan aksi dengan menjadi petunjuk jalan. Sementara pelancong bisa menyaksikan bangunan kuno di kanan dan kiri. Lantas, kadang-kadang mandek ke sebuah toko batik. Tukang becak di Laweyan benar-benar sabar menanti penumpangnya beli batik.

Telusuri lorong-lorong kecil antara tembok tinggi dan rumah kuno mempunyai kesan tertentu. Tembok-tembok tua dengan warna yang menghilang jadi saksi kemasyhuran juragan batik di periode kemarin. Kita seakan berjalan pada di antara kemasyhuran beberapa rumah saudagar batik kaya jaman dulu.

Asal Nama Kampung Laweyan

Asal Nama Kampung Laweyan
asal nama kampung laweyan

Laweyan asal dari kata “lawe” dalam Bahasa Jawa yang memiliki arti bahan kain tenun. Kabarnya Kampung Laweyan dahulu banyak pohon kapas dan sebagai sentral industri benang yang selanjutnya berkembang jadi sentral industri kain tenun dan batik.

Dulu, banyak saudagar batik kaya yang mempunyai bangunan tempat tinggal yang baik dan pagar tembok tinggi. Untuk argumen keamanan, tempat tinggalnya dikitari tembok tinggi. Sampai saat ini, Anda dapat menyaksikan tembok tinggi itu.

Ada salah satunya rumah yang saat ini dipakai untuk Museum H Samanhoedi, Ketua Serikat Dagang Islam di Laweyan. Rumah itu banyak disanggupi beberapa foto periode muda dan periode tua H. Samanhoedi.

Salah satunya bangunan besar sisa rumah juragan batik yang terurus ialah Hotel Roemahkoe yang saat ini jadi hotel. Teritori Laweyan yang dilalui Jalan Dr. Rajiman lokasinya dekat Keraton Surakarta dan tidak jauh dari Pasar Klewer, pusat pasar batik Solo. Usaha batik di kampung batik, Laweyan, Solo menggelinjang. Pemesanan batik bertambah dari beragam kota seperti Bandung dan Jakarta.

Selainnya pesanan di luar kota, banyak pula perusahaan di kota Solo yang pesan seragam batik. “Ada(nya) kewajiban 3x satu minggu menggunakan batik menarik pebisnis batik,” tutur pengurus batik Sidoluhur, Laweyan, Solo yang telah 25 tahun jadi pebisnis batik.

Batik Di Akui Oleh UNESCO

Keputusan Unesco yang memutuskan batik sebagai peninggalan budaya nonbenda dari Indonesia turut memengaruhi kebangunan pebisnis batik di kampung Laweyan yang dari dulu memang memusatkan diri pada usaha batik.

Mobil pelat nomor AB (Yogyakarta), B (Jakarta), dan D (Bandung) terlihat parkir di muka beberapa toko batik di jalan yang sempit. Pada musim berlibur panjang seperti Lebaran lalu, teritori kampung batik Laweyan semakin ramai. “Untuk parkir saja susah,” tutur seorang tukang parkir.

Meningkatnya Wisata Solo Dengan Adanya Kampung Batik Laweyan

Peningkatan Kampung Rekreasi Batik Laweyan Solo akan dilaksanakan dengan meluaskan lingkup daerah yang ada di sekitaran teritori ini. Ketua Paguyuban Kampung Rekreasi Batik Laweyan Solo, Alpha Febela Priyatmono, di Solo, Rabu, menjelaskan, peluasan lingkup daerah itu mencakup wilayah Sondakan, Bumi, dan Papang.

“Pada ke-3 daerah yang masuk ke daerah Laweyan itu, ada pengrajin batik dan bangunan kuno yang perlu dilestarikan,” ucapnya.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu dijaga dalam peningkatan kampung rekreasi batik ini, yaitu faktor budaya dan ekonomi. Kampung Batik Laweyan, ucapnya, dibuat sebagai salah satunya museum hidup mengenai perubahan batik di Surakarta.

Beragam hal yang terkait dengan batik ditampilkan di kampung rekreasi ini, terhitung kelestarian lingkungan dan sosial budaya warga yang tinggal didalamnya. Ide tradisonal kampung batik yang ditempati sekitaran 60 pengrajin ini, katanya, terus akan dijaga kelestariannya.

“Ide tradisional seperti proses membatik dengan manual masih tetap dijaga,” ucapnya. Meskipun begitu, lanjut ia, faktor ekonomi warga di tempat tetap harus jadi perhatian. Perubahan tehnologi, katanya, lumayan banyak menolong beberapa pengrajin pada proses produksi batik. Menurutnya, produksi batik masih tetap menjadi satu diantara unggulan beberapa pengrajin di Laweyan untuk menjaga keberlangsungan hidup upayanya. Adapun pola batik yang dibikin oleh beberapa pengrajin, katanya, mayoritas masih sebagai pola lama warisan beberapa nenek moyang. “Pola yang dibatik sebagai pola ciri khas Laweyan warisan nenek moyang,” ucapnya.

Di depan, lanjut ia, beberapa pengrajin di daerah ini merencanakan membuat pola keunikan masing-masing, yang seterusnya akan didaftarkan hak atas kekayaan intelektualnya. Saat itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta Purnomo Subagyo menjelaskan, peningkatan kampung batik ini di depan diberikan ke warga di tempat. “Warga di tempat sendiri yang perlu membuat arah peningkatan kampung rekreasi ini, seperti pengaturan lingkungan, beberapa kegiatan budaya, dan lain-lain,” ucapnya.

Dia akui, peningkatan kampung batik Laweyan sebagai salah satunya objek rekreasi favorit kota ini belum optimal. Tetapi di depan, dengan pengaturan daerah yang lebih bagus, dia optimis kampung batik ini akan menjadi satu diantara icon pariwisata Kota Solo.

Keinginan batik mendekati lebaran ini bertambah minimal 25 %. Baju batik dan peralatan dari kain batik yang lain untuk penuhi keperluan berlebaran banyak dibeli warga. Eny Susilo, pemilik Batik Cempaka di Laweyan menjelaskan alami peningkatan keinginan batik 25-40 %. Mayoritas pesanan datang dari Yogyakarta. Batik yang banyak disukai customer ialah wujud abaya, koko, mukena, hijab, bahan sarimbit, hem, dan sajadah.

“Hem dan sajadah sering dipakai untuk bungkusan lebaran. Keinginan tahun ini saya alami lebih bagus dari lebaran tahun kemarin,” kata Eny. Ade Doyoatmodjo, pemilik Batik Putro Hadi, Laweyan akui pesanan pada batiknya bertambah sampai 50 % yang dikuasai koko batik, hem sutra lengan pendek, dan kain batik.

Solo Batik Fashion Hadirkan Batik Kampung Laweyan Di Hari Ke-2

Hari ke-2 Solo Batik Fashion 2009, Sabtu (11/7) malam, masih tetap berjalan semarak. Beberapa puluh baju batik kreasi pengrajin batik atau usaha kecil menengah (UKM) batik di Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan, diperlihatkan dalam Solo Batik Fashion 2009 yang diadakan di halaman Pasar Windu Jenar Ngarsopuro Solo.

Berlainan dengan hari awal Solo Batik Fashion (SBF) yang tampilkan mode dengan beberapa karya batik dari beragam perancang, hari ke-2 SBF berisi performa mode dari ke-2 kampung batik itu.

Malam ke-2 SBF menyajikan peragaan baju batik yang disebut baju harian, baju rileks, baju sah atau baju acara pesta. Beragam baju dengan bermacam pola batik, diperlihatkan satu-satu di atas pentas.

Kampung Batik Kauman menam pilkan baju batik anak-anak, remaja dan dewasa dalam pola dan warna ciri khas Solo. Sementara Kampung Batik Laweyang tampilkan baju batik dengan pola bermacam, bahkan juga beberapa baju batik dengan gabungan pola ciri khas Solo dan kontemporer.

Yang memikat, para model yang tampil membawa baju batik dari ke-2 kampung batik ini, sebagai masyarakat di tempat yang dilatih dalam kurun waktu sekian hari untuk tampil seperti model. Mereka akui awalannya gugup, tapi pada akhirnya sanggup tampil optimis dalam peragaan bu sana, SBF hari ke-2 . Heee awalannya gugup, tetapi pada akhirnya dapat kuasai pentas. Senang sekali tampil mempromokan batik dari kampung sendiri, tutur Desi, remaja asal Laweyan yang tampil saat malam SBF hari ke-2 . SBF 2009 akan diteruskan Minggu (12/7) malam, dan akan tampilkan persembahan kreasi batik Rumah Batik Danar Hadi, Batik Semar, Batik Gunawan Setiawan, dan Rumah Model Bilqis.

Museum Batik Laweyan Dan Kenang Kembali Haji Samanhoedi

Walau beragam masalah dan keluarga juga tinggal di Jakarta, Kota Solo demikian khusus untuk Krisnina Maharani Besar Tandjung (48). Itu karena banyak gagasan inovatif yang sudah dia curahkan untuk kota asal Nina, panggilannya.

Sesudah mengeluarkan buku Rumah Solo (2002) dan Riwayat Mangkunegaran 1757-Sekarang (2007), Agustus lalu, gagasan terbaru, Museum Haji Samanhoedi di teritori Laweyan, Solo, disahkan Wali Kota Joko Widodo. Di Museum ini, pengunjung dapat memerhatikan kisah saudagar batik-cum-politikus itu.

Sebagai Ketua Umum Yayasan Warna Warni yang punyai visi menyukai kebudayaan dan riwayat Indonesia, Nina masih mempunyai gagasan yang ingin dia bangun. Tetapi, kegiatan Ramadhan meredamnya untuk banyak tinggal di Jakarta. “Ada tarawihan di dalam rumah. Mondar-mandirnya ke Solo satu bulan sekali saja,” ucapnya, Rabu (3/9) malam. Jadilah dia mengawasi masalah Laweyan dari Jakarta. Walau fisiknya tidak kemanapun, jiwanya gampang mengantarnya ke masa lampau, terhitung saat Ramadhan. Saat interviu dengan Ida Arimurti, kenang kembali periode kecil di Solo membuat Nina berbahagia.

Cocoklah dengan pepatah Latin, Olim meminise iuvabit, selalu membahagiakan kenang kembali hal yang melalui. Dia menyaksikan masa lampau tidak semata-mata berlingkup individu, tapi berkaitan riwayat bangsa, seperti mengenai Samanhoedi itu.

Hari Jumat (22/8) pagi, di salah satunya pojok Kampoeng Batik Laweyan kelihatan keramaian. Dalam suatu gedung tua sisa gudang batik, lebih dari 100 orang bergabung membaur menjadi satu, mendatangi pengesahan Museum Haji Samanhoedi, figur gerakan nasional yang membangun Serikat Dagang Islam atau Serikat Islam.

Museum yang dibangun Yayasan Warna Warni pimpinan Krisnina Besar Tandjung yang berisi document dan photo/gambar berkenaan riwayat dan perjuangan KH Samanhoedi ini disahkan Wali Kota Solo Joko Widodo. Selainnya didatangi bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Besar Tandjung, pengesahan museum ini didatangi sekitaran 90-an tamu dari Jakarta dan banyak daerah yang diundang Yayasan Warna Warni.

Beragam document dan photo/gambar dipampang dalam museum ini. Sebuah photo Samanhoedi (Sudarno Nadi) yang duduk dalam suatu bangku, terhitung photo Samanhoedi dengan beberapa figur gerakan nasional, jadi perhatian pengunjung museum.

Dalam museum itu dipampang pidato Haji Samanhoedi Dalam Konferensi Serikat Islam di Yogyakarta tahun 1914. Pidato itu diantaranya berisi pengakuan Samanhoedi berkenaan Serikat Islam (SI), yaitu “Toean-toean sekaligus sudah makloem, jika saja (H Samanhoedi) seorang tidak ada terpeladjar, soedah tentoe sadja boeat mengemoedikan SI jang sebesar ini, sebenarnja tidak ada bisa. Namun, toean- toean haroes ingat djoega, apa sebabnja karena itu leden SI selalu bertambah-tambah. Saja ada terlaloe tjinta ke SI. Karena SI itoe saja yang memboeat djadi soenggoeh-soenggoeh saja mendjaja itoe hingga SI mendjadi baik. Karena itoe saja meminta dengan keras, zetel CSI itoe soepaja masih tetap di Solo, dan Bestuurnja baik dilandjoetkan Bestuur lama sadja.”

Di museum diterangkan fungsi Samanhoedi sebagai saudagar batik di Kampoeng Laweyan. Misalkan disebut salah satu pedagang besar dan terpenting di Laweyan sekitaran tahun 1990-1910 ialah Haji Samanhoedi. Dia membangun beberapa kantor cabang di Surabaya, Banyuwangi, Bandung, dan beberapa tempat yang lain. Salah satunya cabangnya, yakni Bandung, diatur saudaranya sendiri namanya Haji Amir dengan perkumpulan Darmo Loemekso.

Dicatat jika Laweyan masih tetap jadi tempat beberapa pedagang batik yang kuasai pasar nasional dan masih tetap tertutup dengan cara sosial pada dunia luar, sama seperti yang dilambangkan oleh tembok-tembok tinggi warna putih yang melingkari teritori itu.

Selainnya fungsi Samanhoedi, di museum itu diperlihatkan kisah singkat Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan gerakan nasional. Sebuah gambar koran jaman dahulu “Medan-Prijaji” yang keluar di tahun 1910 diperlihatkan.

Di tengah pengesahan museum itu, beberapa ibu mengaplikasikan langkah membuat batik tulis. Seorang bapak mengaplikasikan pembikinan batik cap. Proses pembikinan batik ini mengundang perhatian pengunjung, khususnya mereka yang belum ketahui proses pembikinan batik. Keluarga KH Samanhoedi menyongsong senang kehadiran museum ini. Bahkan juga, saat pengesahan, keluarga dekat Samanhoedi datang dan berpose bersama.

Pendirian museum Haji Samanhoedi disongsong senang Joko Widodo yang dekat dipanggil Jokowi. Jokowi setuju dengan ide Krisnina Besar Tandjung jika museum itu tidak harus berbentuk gedung yang besar dan istimewa, tapi dengan gedung yang kecil dan simpel juga menjadi tempat evaluasi untuk warga. “Beberapa hal yang dapat kita dalami. Apa lagi Kota Solo banyak memiliki nilai-nilai riwayat,” katanya.

Kehadiran Museum Haji Samanhoedi automatis akan mengundang perhatian pelancong yang bertandang ke Solo. Faktanya, pelancong yang bertandang ke Solo meluangkan diri bertandang ke museum itu. “Saya beberapa kali sudah tiba ke Solo. Tetapi, saya tidak pernah masuk ke Laweyan sini. Museum ini bagus,” tutur Olga yang akui datang dari Belanda. Krisnina mengharap museum semacam ini dapat membuat figur Samanhoedi dan figur gerakan nasional yang lain dijumpai warga dalam negeri atau luar negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here